Selasa, 07 Oktober 2014

Link Budget

Link budget merupakan sebuah cara untuk menghitung mengenai semua parameter dalam transmisi sinyal, mulai dari gain dan losses dari Tx sampai Rx melalui media transmisi. Dalam hal ini perhitungan dengan media transmisi Wifi.
Link merupakan parameter dalam merencanakan suatu jaringan yang menggunakan media transmisi berbagai macam. Link budget ini dihitung berdasarkan jarak antara transmitter (Tx) dan receiver (Rx). Link budget juga dihitung karena adanya penghalang antara Tx dan Rx misal gedung atau pepohonan. Link budget juga dihitung dengan melihat spesifikasi yang ada pada antenna.
Pada artikel ini link budget yang akan dihitung adalah
  • Free Space Loss
  • Fresnel Zone Clearance
  • RX Signal Level
  • SOM  (System Operating Margin)
Untuk lebih jelasnya pada artikel ini juga akan disertakan contoh parameter antenna yang dibutuhkan dalam perhitungan tersebut. Parameter tersebut antara lain
—   Jarak (d) terjauh antara antenna pemancar (Tx) dengan antenna penerima (Rx). Misal jarak tersebut sekitar 1 Km, dan jarak ini harus kita konversi ke mil. Sekitar 0.6 mil
—   Frekuensi BS dan Antena penerima, ini merupakan frekuensi standart 2,4 GHz. Frekuensi Wifi yang sudah gratis.
—   TX Power  merupakan daya dari AP (Access Point) yang akan kita gunakan. Misalnya sebesar 22 dBm. Tidak menggunakan satuan watt, harus ke dBm. Untuk konversi dari waat ke dBm akan disampaikan di bawah.
—   TX Cable Loss ini merupakan loss atau kerugian yang terjadi karena kabel yang kita gunakan. Misal loss yang terjadi sekitar 2 dB. Loss ini biasanya terjadi pada kabel antara penghubung dari antenna ke AP. Yang biasa disebut dengan kabel pigtail.pigtail biasanya terbuata dari kabel coaxial. Dan diusahakan jangan menggunakan kabel pigtail yang terlalu panjang. Biasanya panjang pigtail di pasaran sekitar 50 cm.
—    TX Antenna Gain  merupakan daya terpancar dari antenna yang kita gunakan. Misal menggunakan antenna omni directional 12 dB. Itulah yang dimaksud dengan Tx antenna gain (12 dB).
—    RX Antenna Gain  merupakan daya yang dihasilkan dari antenna penerima, misal kita menggunakan antenna grid 15 dB.
—   RX cable Loss sebenarnya hamper sama dengan Tx kabel loss, hanya saja ini terjadi pada daerah penerima atau antenna penerima. Misal 2 dB.
—   RX Sensitivity merupakan sensitivitas dari antenna penerima dalam hal menangkap sinyal wifi dari antenna pemancar. Misalnya sebesar -68 dBm.
Parameter-parameter tersebut biasanya sudah tercantum dalam datasheet peralatan dalam mendirikan infrastruktur wifi.
Gambaran link budget tersebut dapat dilihat di bawah ini.


1. Free Space Loss (FSL)
Pada saat sinyal radio berpropagasi di udara akan mengalami redaman dari udara. Besarnya redaman yang terjadi dapat dihitung secara empiris. Redaman itulah yang disebut dengan Free Space Loss.
Free Space Loss (dB) = 20 Log10 (MHz) + 20 Log10 (Distance Miles) + 36.6
Setelah dihitung didapatkan nilai FSL sebesar 99.8 dB
2. Fresnel Zone Clearance merupakan diameter antara antenna pemancar dengan antenna penerima dimana diantara kedua antenna tersebut ada penghalang. Maka Fresnel Zone Clearance (FZC) adalah diameter antara penghalang dengan LOS antara tx dan rx. Untuk lebih jelasnya mengenai FZC, bisa dilihat gambar di bawah ini.

 

Dari gambar diatas FZC adalah r. besarnya r adalah 3.29 meter dan 80% FSC adalah 2.63 m. Nilai FZC ini dihitung berdasarkan kondisi permukaan bumu yang datar. Karena dengan wifi pada frekuensi 2.4 GHz ini jaraknya tidak bisa sejauh jarak antenna microwave. Yang jaraknya bisa jauh sekali. Karena sinyal wifi dapat terserapoleh air, seperti air pada pepohonan
3. Rx Sinyal Level (daya yang diterima) dapat dihitung dengan menambahkan dan mengurani daya pancar (TX power) dengan berbagai parameter yang ada dalam sebuah persamaan yang sederhana, yaitu,
Rx signal level = Tx power – Tx cable loss + Tx antenna gain – FSL+ Rx antenna        gain – Rx cable loss.
Dari hitungan yang telah dilakukan Rx sinyal level didapatkan = -54.8 dBm
4. Setelah kita mempunyai semua data / parameter yang dibutuhkan kita dapat menghitung System Operating Margin (SOM) untuk meyakinkan bahwa system yang kita kerjakan akan bekerja secara benar. Pada dasarnya System Operating Margin (SOM) menghitung selisih antara sinyal yang di terima dengan sensitifitas penerima. Maka rumusnya adalah
SOM = Rx signal level – Rx sensitivity
Maka dari file excel yang sudah ada mengenai perhitungan link budget di dapat nilai SOM adalah 13.2 dB. Dalam kehidupan nyata nilai SOM iniharus kita atur nilainya antara 10-15 dB. Karena untuk mengurangi efek Fading dan  Multipath karena efek tersebut bisa sangat menganggu sinyal kita.

Media Transmisi Fiber Optik

Fiber Optik merupakan saluran transmisi yang terbuat dari kaca atau plastik yang digunakan untuk mentransmisikan data dengan cara merubah sinyal listrik menjadi  cahaya. Cahaya yang ada di dalam serat optik sulit keluar karena indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara. Sumber cahaya yang digunakan adalah laser, leser digunakan karena mempunyai lebar spektrum yang sempit. Kecepatan transmisi serat optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran komunikasi. Di bawah ini contoh gambaran sederhana mengenai fiber optik single mode.

Serat optik terdiri dari 2 bagian, yaitu cladding dan core. Cladding adalah selubung dari core. Cladding mempunyai indek bias lebih rendah dari pada core akan memantulkan kembali cahaya yang mengarah keluar dari core kembali kedalam core lagi.
Penemuan fiber optik sebagai media transmisi pada suatu sistem komunikasi didasarkan pada hukum Snellius untuk perambatan cahaya pada media transparan seperti pada kaca yang terbuat dari kuartz kualitas tinggi dan dibentuk dari dua lapisan utama yaitu lapisan  inti yang biasanya disebut core terletak pada lapisan yang paling dalam dengan indeks bias  n1 dan dilapisi oleh cladding dengan indeks bias n2 yang lebih kecil dari n1.
Menurut hukum Snellius jika seberkas sinar masuk pada suatu ujung fiber optik ( media yang transparan ) dengan sudut kritis dan sinar itu datang dari medium yang mempunyai indeks bias lebih kecil dari udara menuju inti fiber optik ( kuartz murni ) yang mempunyai indeks bias yang lebih besar maka seluruh sinar akan merambat sepanjang inti (core) fiber optik menuju ujung yang satu.
Dewasa ini ada 3 jenis fiber optik yang populer pemamfatannya pada sistem komunikasi Fiber Optik yaitu:
a.   Fiber optik  multimode step indek
b.   Fiber optik multimode Graded
c.    Fiber optik single mode



Pembagian serat optik dapat dilihat dari 2 macam perbedaan :
  1. Berdasarkan Mode yang dirambatkan :
-  Single mode : serat optik dengan core yang sangat kecil, diameter mendekati panjang gelombang sehingga cahaya yang masuk ke dalamnya tidak terpantul-pantul ke dinding cladding.
  • Multi mode  : serat optik dengan diameter core yang agak besar yang membuat laser di dalamnya akan terpantul-pantul di dinding cladding yang dapat menyebabkan berkurangnya bandwidth dari serat optik jenis ini.


2.    Berdasarkan indeks bias core :
  • Step indeks : pada serat optik step indeks, core memiliki indeks bias yang homogen.
  • Graded indeks : indeks bias core semakin mendekat ke arah cladding semakin kecil.
Jadi pada graded indeks, pusat core memiliki nilai indeks bias yang paling besar. Serat graded indeks memungkinkan untuk membawa bandwidth yang lebih besar, karena pelebaran pulsa yang terjadi dapat diminimalkan.

Rabu, 20 Agustus 2014

Belajar Konfigurasi Basic HSRP (Hot Standby Router Protocol)


 
nb:
-Shadow cnc Pada kenyataannya tidak ada.
-cnc1 merupakan router primary dengan priority 100
-cnc2 merupakan router secondary dengan priority 50

Konfigurasinya adalah sebagai berikut :

Router cnc 1 :
interface FastEthernet0/0
 ip address 192.168.10.3 255.255.255.0
 standby 10 ip 192.168.10.1
 standby 10 priority 100
 standby 10 preempt
!kalau tidak diberi perintah preempt, jika ingin kembali normal,router harus
!di reboot terlebih dahulu.
 standby 10 track FastEthernet1/0 60
!perintah ini mengantisipasi, jika f1/0 down secara otomatis priority agar berkurang
!sebesar 60 (100-60=40) hal ini menyebabkan cnc2 berubah dari state stanby -> active

!jika konfigurasi benar akan muncul line seperti berikut:
*Mar 28 12:30:52.291: %HSRP-5-STATECHANGE: FastEthernet0/0 Grp 10 state Standby -> Active

Router cnc 2 :
interface FastEthernet0/0
 ip address 192.168.10.2 255.255.255.0
 standby 10 ip 192.168.10.1
 standby 10 priority 50
 standby 10 preempt

!jika konfigurasi benar akan muncul line seperti berikut:
*Mar 28 12:31:12.843: %HSRP-5-STATECHANGE: FastEthernet0/0 Grp 10 state Speak -> Standby

-------------------------------------------------------------
cnc1(config-if)#standby ?
  <0-255>         group number
  authentication  Authentication
  bfd             Enable HSRP BFD
  delay           HSRP initialisation delay
  follow          Name of HSRP group to follow
  ip              Enable HSRP IPv4 and set the virtual IP address
  ipv6            Enable HSRP IPv6
  mac-address     Virtual MAC address
  mac-refresh     Refresh MAC cache on switch by periodically sending packet
                  from virtual mac address
  name            Redundancy name string
  preempt         Overthrow lower priority Active routers
  priority        Priority level
  redirect        Configure sending of ICMP Redirect messages with an HSRP
                  virtual IP address as the gateway IP address
  timers          Hello and hold timers
  track           Priority tracking
  use-bia         HSRP uses interface's burned in address
  version         HSRP version

cnc1(config-if)#standby

cnc1(config-if)#standby 10 ?
  authentication  Authentication
  follow          Name of HSRP group to follow
  ip              Enable HSRP IPv4 and set the virtual IP address
  ipv6            Enable HSRP IPv6
  mac-address     Virtual MAC address
  name            Redundancy name string
  preempt         Overthrow lower priority Active routers
  priority        Priority level
  timers          Hello and hold timers
  track           Priority tracking

cnc1(config-if)#standby 10

cnc1(config-if)#standby 10 ip?
ip  ipv6

cnc1(config-if)#standby 10 ip ?
  A.B.C.D  Virtual IP address
  <cr>

cnc1(config-if)#standby 10 ip

cnc1(config-if)#standby 10 priority ?
  <0-255>  Priority value

cnc1(config-if)#standby 10 priority

cnc1(config-if)#standby 10 track f1/0 ?
  <1-255>  Decrement value
  <cr>

cnc1(config-if)#standby 10 track f1/0
-------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------

How to check:
cnc1#sh standby
FastEthernet0/0 - Group 10
  State is Active
    11 state changes, last state change 00:01:56
  Virtual IP address is 192.168.10.1
  Active virtual MAC address is 0000.0c07.ac0a
    Local virtual MAC address is 0000.0c07.ac0a (v1 default)
  Hello time 3 sec, hold time 10 sec
    Next hello sent in 2.480 secs
  Preemption enabled
  Active router is local
  Standby router is 192.168.10.2, priority 50 (expires in 10.336 sec)
  Priority 100 (default 100)
    Track interface FastEthernet1/0 state Up decrement 60
  Group name is "hsrp-Fa0/0-10" (default)
cnc1#sh standby brief
                     P indicates configured to preempt.
                     |
Interface   Grp  Pri P State   Active          Standby         Virtual IP
Fa0/0       10   100 P Active  local           192.168.10.2    192.168.10.1
cnc1#

cnc2#sh standby
FastEthernet0/0 - Group 10
  State is Standby
    31 state changes, last state change 00:04:22
  Virtual IP address is 192.168.10.1
  Active virtual MAC address is 0000.0c07.ac0a
    Local virtual MAC address is 0000.0c07.ac0a (v1 default)
  Hello time 3 sec, hold time 10 sec
    Next hello sent in 1.648 secs
  Preemption enabled
  Active router is 192.168.10.3, priority 100 (expires in 8.240 sec)
  Standby router is local
  Priority 50 (configured 50)
  Group name is "hsrp-Fa0/0-10" (default)
cnc2#sh standby brief
                     P indicates configured to preempt.
                     |
Interface   Grp  Pri P State   Active          Standby         Virtual IP
Fa0/0       10   50  P Standby 192.168.10.3    local           192.168.10.1
-------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------

cnc2#debug stanby
HSRP debugging is on
cnc2#
*Mar 28 11:45:50.099: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  out 192.168.10.2 Standby pri 50 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:45:51.551: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  in  192.168.10.3 Active  pri 100 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:45:52.563: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  out 192.168.10.2 Standby pri 50 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:45:55.555: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  out 192.168.10.2 Standby pri 50 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:45:57.599: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  in  192.168.10.3 Active  pri 100 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:45:58.339: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  out 192.168.10.2 Standby pri 50 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:45:58.835: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Resign in  192.168.10.3 Active  pri 100 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:45:58.835: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Standby: i/Resign rcvd (100/192.168.10.3)
*Mar 28 11:45:58.839: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Active router is local, was 192.168.10.3
*Mar 28 11:45:58.839: HSRP: Fa0/0 Nbr 192.168.10.3 no longer active for group 10 (Standby)
*Mar 28 11:45:58.839: HSRP: Fa0/0 Nbr 192.168.10.3 Was active or standby - start passive holddown
*Mar 28 11:45:58.839: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Standby router is unknown, was local
*Mar 28 11:45:58.843: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Standby -> Active
*Mar 28 11:45:58.843: %HSRP-5-STATECHANGE: FastEthernet0/0 Grp 10 state Standby -> Active
*Mar 28 11:45:58.843: HSRP: Fa0/0 Interface adv out, Active, active 1 passive 0
*Mar 28 11:45:58.847: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Redundancy "hsrp-Fa0/0-10" state Standby -> Active
*Mar 28 11:45:58.847: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  out 192.168.10.2 Active  pri 50 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:45:58.851: HSRP: Fa0/0 Added 192.168.10.1 to ARP (0000.0c07.ac0a)
*Mar 28 11:45:58.855: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Activating MAC 0000.0c07.ac0a
*Mar 28 11:45:58.855: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Adding 0000.0c07.ac0a to MAC address filter
*Mar 28 11:45:58.859: HSRP: Fa0/0 IP Redundancy "hsrp-Fa0/0-10" standby, local -> unknown
*Mar 28 11:45:58.859: HSRP: Fa0/0 IP Redundancy "hsrp-Fa0/0-10" update, Standby -> Active
*Mar 28 11:46:01.439: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  out 192.168.10.2 Active  pri 50 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:46:01.855: HSRP: Fa0/0 IP Redundancy "hsrp-Fa0/0-10" update, Active -> Active
*Mar 28 11:46:04.015: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  out 192.168.10.2 Active  pri 50 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:46:06.451: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  out 192.168.10.2 Active  pri 50 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:46:09.059: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  out 192.168.10.2 Active  pri 50 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:46:11.667: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  out 192.168.10.2 Active  pri 50 vIP 192.168.10.1
*Mar 28 11:46:14.179: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  out 192.168.10.2 Active  pri 50 vIP 192.168.10.1
cnc2#u all
All possible debugging has been turned off
cnc2#
*Mar 28 11:46:16.627: HSRP: Fa0/0 Grp 10 Hello  out 192.168.10.2 Active  pri 50 vIP 192.168.10.1
cnc2#u all
All possible debugging has been turned off
cnc2#
*Mar 28 11:46:28.427: %OSPF-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 10.10.10.1 on FastEthernet0/0 from FULL to DOWN, Neighbor Down: Dead timer expired
cnc2#
*Mar 28 11:46:52.059: %HSRP-5-STATECHANGE: FastEthernet0/0 Grp 10 state Active -> Speak
*Mar 28 11:46:53.299: %OSPF-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 10.10.10.1 on FastEthernet0/0 from LOADING to FULL, Loading Done
*Mar 28 11:47:02.879: %HSRP-5-STATECHANGE: FastEthernet0/0 Grp 10 state Speak -> Standby
cnc2#
-------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------
Pada saat normal
C:\>tracert 192.168.40.2
Tracing route to 192.168.40.2 over a maximum of 30 hops
1     *      111 ms    46 ms  192.168.10.3
2   177 ms   200 ms   222 ms  192.168.20.2
3   375 ms   453 ms   437 ms  192.168.40.2
Trace complete.
Pada saat interface f0/0 router cnc1 down
C:\>tracert 192.168.40.2
Tracing route to 192.168.40.2 over a maximum of 30 hops
1   124 ms   140 ms   187 ms  192.168.10.2
2   280 ms   342 ms   157 ms  192.168.30.2
3   281 ms   374 ms   251 ms  192.168.40.2
Trace complete.

Pada saat interface f0/0 router cnc1 kembali up
C:\>tracert 192.168.40.2
Tracing route to 192.168.40.2 over a maximum of 30 hops
1     *      108 ms   125 ms  192.168.10.3
2   313 ms   297 ms   250 ms  192.168.20.2
3   313 ms   406 ms   312 ms  192.168.40.2
Trace complete.

Pada saat interface f1/0 router cnc1 down
C:\>tracert 192.168.40.2
Tracing route to 192.168.40.2 over a maximum of 30 hops
1   134 ms   124 ms   125 ms  192.168.10.2
2   300 ms   342 ms   281 ms  192.168.30.2
3   560 ms   531 ms   562 ms  192.168.40.2
Trace complete.
C:\>
-------------------------------------------------------------
"------------Sekian dulu, semoga bermanfaat------------------"

Belajar Simulasi CISCO MPLS-L3VPN (PE-CE OSPF)

Belajar Simulasi CISCO MPLS-L3VPN (PE-CE with OSPF)
(PE-To-CE OSPF with same process ID)
 Topology yang saya gunakan adalah seperti gambar dibawah ini: 
 
  
 Konfigurasi IP addressnya adalah sebagai berikut:



Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Pertama:
configure semua interface (PE1-Core-PE2)


---------------core----------------------
!
interface Loopback0
ip address 192.168.100.1 255.255.255.255
!
interface GigabitEthernet1/0
ip address 192.168.10.10 255.255.255.252
!
interface GigabitEthernet2/0
ip address 192.168.10.13 255.255.255.252
-----------------------------------------

---------------PE1-----------------------
interface Loopback0
ip address 192.168.100.2 255.255.255.255
!
interface GigabitEthernet1/0
ip address 192.168.10.9 255.255.255.252
-----------------------------------------

---------------PE2-----------------------
interface Loopback0
ip address 192.168.100.3 255.255.255.255
!
interface GigabitEthernet1/0
ip address 192.168.10.14 255.255.255.252
-----------------------------------------

Kedua:Aktifkan Dynamic Routing

---------------core----------------------
router ospf 1
network 192.168.10.0 0.0.0.255 area 0
network 192.168.100.1 0.0.0.0 area 0
-----------------------------------------

---------------PE1-----------------------
router ospf 1
network 192.168.10.0 0.0.0.255 area 0
network 192.168.100.2 0.0.0.0 area 0
-----------------------------------------

---------------PE2-----------------------
router ospf 1
network 192.168.10.0 0.0.0.255 area 0
network 192.168.100.3 0.0.0.0 area 0
-----------------------------------------
untuk pengecekan : ketikan show ip route

PE1#sh ip route
Codes: C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2
i - IS-IS, su - IS-IS summary, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2
ia - IS-IS inter area, * - candidate default, U - per-user static route
o - ODR, P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

192.168.10.0/30 is subnetted, 2 subnets
C       192.168.10.8 is directly connected, GigabitEthernet1/0
O       192.168.10.12 [110/2] via 192.168.10.10, 00:23:16, GigabitEthernet1/0
192.168.100.0/32 is subnetted, 3 subnets
O       192.168.100.1 [110/2] via 192.168.10.10, 00:23:16, GigabitEthernet1/0
C       192.168.100.2 is directly connected, Loopback0
O       192.168.100.3 [110/3] via 192.168.10.10, 00:23:16, GigabitEthernet1/0
PE1#

PE2#sh ip route
Codes: C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2
i - IS-IS, su - IS-IS summary, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2
ia - IS-IS inter area, * - candidate default, U - per-user static route
o - ODR, P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

192.168.10.0/30 is subnetted, 2 subnets
O       192.168.10.8 [110/2] via 192.168.10.13, 00:18:13, GigabitEthernet1/0
C       192.168.10.12 is directly connected, GigabitEthernet1/0
192.168.100.0/32 is subnetted, 3 subnets
O       192.168.100.1 [110/2] via 192.168.10.13, 00:18:23, GigabitEthernet1/0
O       192.168.100.2 [110/3] via 192.168.10.13, 00:18:13, GigabitEthernet1/0
C       192.168.100.3 is directly connected, Loopback0
PE2#

Ketiga:Aktifkan BGP

---------------PE1-----------------------
router bgp 100
no synchronization
bgp log-neighbor-changes
neighbor 192.168.100.3 remote-as 100
neighbor 192.168.100.3 update-source Loopback0
no auto-summary
-----------------------------------------

---------------PE2-----------------------
router bgp 100
no synchronization
bgp log-neighbor-changes
neighbor 192.168.100.2 remote-as 100
neighbor 192.168.100.2 update-source Loopback0
no auto-summary
-----------------------------------------
untuk pengecekan : ketikan show ip bgp sum

PE1# sh ip bgp summary
BGP router identifier 192.168.100.2, local AS number 100
BGP table version is 1, main routing table version 1

Neighbor        V    AS MsgRcvd MsgSent   TblVer  InQ OutQ Up/Down  State/PfxRcd
192.168.100.3   4   100      28      36        1    0    0 00:30:32        0
PE1#

PE2#sh ip bgp summary
BGP router identifier 192.168.100.3, local AS number 100
BGP table version is 1, main routing table version 1

Neighbor        V    AS MsgRcvd MsgSent   TblVer  InQ OutQ Up/Down  State/PfxRcd
192.168.100.2   4   100      35      28        1    0    0 00:23:27        0
PE2#

Keempat:Aktifkan MPLS
---------------core----------------------
ip cef
!
mpls label protocol ldp
!
interface GigabitEthernet1/0
ip address 192.168.10.10 255.255.255.252
mpls ip
!
interface GigabitEthernet2/0
ip address 192.168.10.13 255.255.255.252
mpls ip
-----------------------------------------

---------------PE1-----------------------
ip cef
!
mpls label protocol ldp
!
mpls ldp router-id Loopback0 force
!
interface GigabitEthernet1/0
ip address 192.168.10.9 255.255.255.252
mpls ip
-----------------------------------------

---------------PE2-----------------------
ip cef
!
mpls label protocol ldp
!
mpls ldp router-id Loopback0 force
!
interface GigabitEthernet1/0
ip address 192.168.10.14 255.255.255.252
mpls ip
-----------------------------------------
untuk pengecekan : ketikan show mpls ldp neighbor

core#show mpls ldp neighbor
Peer LDP Ident: 192.168.100.3:0; Local LDP Ident 192.168.100.1:0
TCP connection: 192.168.100.3.26601 - 192.168.100.1.646
State: Oper; Msgs sent/rcvd: 45/36; Downstream
Up time: 00:32:49
LDP discovery sources:
GigabitEthernet2/0, Src IP addr: 192.168.10.14
Addresses bound to peer LDP Ident:
192.168.10.14   192.168.100.3
Peer LDP Ident: 192.168.100.2:0; Local LDP Ident 192.168.100.1:0
TCP connection: 192.168.100.2.31760 - 192.168.100.1.646
State: Oper; Msgs sent/rcvd: 45/44; Downstream
Up time: 00:32:32
LDP discovery sources:
GigabitEthernet1/0, Src IP addr: 192.168.10.9
Addresses bound to peer LDP Ident:
192.168.10.9    192.168.100.2
core#

PE1#sh mpls ldp neighbor
Peer LDP Ident: 192.168.100.1:0; Local LDP Ident 192.168.100.2:0
TCP connection: 192.168.100.1.646 - 192.168.100.2.31760
State: Oper; Msgs sent/rcvd: 43/44; Downstream
Up time: 00:31:35
LDP discovery sources:
GigabitEthernet1/0, Src IP addr: 192.168.10.10
Addresses bound to peer LDP Ident:
192.168.10.10   192.168.100.1   192.168.10.13
PE1#

PE2#show mpls ldp neighbor
Peer LDP Ident: 192.168.100.1:0; Local LDP Ident 192.168.100.3:0
TCP connection: 192.168.100.1.646 - 192.168.100.3.26601
State: Oper; Msgs sent/rcvd: 37/45; Downstream
Up time: 00:25:54
LDP discovery sources:
GigabitEthernet1/0, Src IP addr: 192.168.10.13
Addresses bound to peer LDP Ident:
192.168.10.10   192.168.100.1   192.168.10.13
PE2#

Kelima:Buat Router Virtual

---------------PE1-----------------------
ip vrf cnc1
rd 100:1
route-target export 100:1
route-target import 100:1
!
interface GigabitEthernet2/0
ip vrf forwarding cnc1
ip address 192.168.10.2 255.255.255.252

---------------PE2-----------------------
ip vrf cnc1
rd 100:1
route-target export 100:1
route-target import 100:1
!
interface GigabitEthernet2/0
ip vrf forwarding cnc1
ip address 192.168.10.17 255.255.255.252

-----------------------------------------
untuk pengecekan : ketikan show ip vrf (name)

Keenam: Menambahkan Routing DiRouter Virtual

---------------PE1-----------------------

router ospf 100 vrf cnc1
log-adjacency-changes
redistribute bgp 100 subnets
network 10.0.0.0 0.255.255.255 area 0
network 192.0.0.0 0.255.255.255 area 0
-----------------------------------------

---------------PE2-----------------------
router ospf 100 vrf cnc1
log-adjacency-changes
redistribute bgp 100 subnets
network 10.0.0.0 0.255.255.255 area 0
network 192.0.0.0 0.255.255.255 area 0
-----------------------------------------
untuk pengecekan : ketikan show ip vrf (name)

PE1#sh ip route vrf cnc1

Routing Table: cnc1
Codes: C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2
i - IS-IS, su - IS-IS summary, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2
ia - IS-IS inter area, * - candidate default, U - per-user static route
o - ODR, P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

192.168.10.0/30 is subnetted, 2 subnets
C       192.168.10.0 is directly connected, GigabitEthernet2/0
B       192.168.10.16 [200/0] via 192.168.100.3, 00:21:01
10.0.0.0/32 is subnetted, 2 subnets
O       10.14.200.1 [110/2] via 192.168.10.1, 00:24:00, GigabitEthernet2/0
B       10.14.200.2 [200/2] via 192.168.100.3, 00:21:01
PE1#

PE2#sh ip route vrf cnc1

Routing Table: cnc1
Codes: C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2
i - IS-IS, su - IS-IS summary, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2
ia - IS-IS inter area, * - candidate default, U - per-user static route
o - ODR, P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

192.168.10.0/30 is subnetted, 2 subnets
B       192.168.10.0 [200/0] via 192.168.100.2, 00:16:32
C       192.168.10.16 is directly connected, GigabitEthernet2/0
10.0.0.0/32 is subnetted, 2 subnets
B       10.14.200.1 [200/2] via 192.168.100.2, 00:16:32
O       10.14.200.2 [110/2] via 192.168.10.18, 00:19:02, GigabitEthernet2/0
PE2#

Ketujuh: Aktifkan MP-BGP

---------------PE1-----------------------
router bgp 100
bgp router-id 192.168.100.2
bgp log-neighbor-changes
neighbor 192.168.100.3 remote-as 100
neighbor 192.168.100.3 update-source Loopback0
!
address-family ipv4
neighbor 192.168.100.3 activate
no auto-summary
no synchronization
exit-address-family
!
address-family vpnv4
neighbor 192.168.100.3 activate
neighbor 192.168.100.3 send-community both
exit-address-family
!
address-family ipv4 vrf cnc1
redistribute connected
redistribute ospf 100 vrf cnc1 match internal external 1 external 2
no synchronization
exit-address-family
!
-----------------------------------------

---------------PE2-----------------------
router bgp 100
bgp router-id 192.168.100.3
bgp log-neighbor-changes
neighbor 192.168.100.2 remote-as 100
neighbor 192.168.100.2 update-source Loopback0
!
address-family ipv4
neighbor 192.168.100.2 activate
no auto-summary
no synchronization
exit-address-family
!
address-family vpnv4
neighbor 192.168.100.2 activate
neighbor 192.168.100.2 send-community both
exit-address-family
!
address-family ipv4 vrf cnc1
redistribute connected
redistribute ospf 100 vrf cnc1 match internal external 1 external 2
no synchronization
exit-address-family
-----------------------------------------

Kedelapan: Mengaktifkan CE dan Pengujian End-to-end

---------------cnc1_a--------------------

cnc1_a#sh run
!
version 12.4
!
hostname cnc1_a
!
enable secret 5 $1$3b6r$LdDX1wajQUqjGJPOpxH0F1
!
ip cef
!
interface Loopback0
ip address 10.14.200.1 255.255.255.255
!
interface GigabitEthernet1/0
ip address 192.168.10.1 255.255.255.252
negotiation auto
!
ip forward-protocol nd
router ospf 100
log-adjacency-changes
redistribute connected subnets
network 10.0.0.0 0.255.255.255 area 0
network 192.168.0.0 0.0.255.255 area 0
!
line con 0
stopbits 1
line aux 0
stopbits 1
line vty 0 4
password 7 xxxx
login
!
end

cnc1_a#
-----------------------------------------

--------------cnc1_b---------------------

cnc1_b#sh run
!
version 12.4
!
hostname cnc1_b
!
enable secret 5 $1$BNrz$gJwJXNoaDp5X0F2ViVllF/
ip cef
!
interface Loopback0
ip address 10.14.200.2 255.255.255.255
!
interface GigabitEthernet1/0
ip address 192.168.10.18 255.255.255.252
negotiation auto
!
ip forward-protocol nd
router ospf 100
log-adjacency-changes
redistribute connected subnets
network 10.0.0.0 0.255.255.255 area 0
network 192.168.0.0 0.0.255.255 area 0
!
line con 0
stopbits 1
line aux 0
stopbits 1
line vty 0 4
password xxxx
login
!
end

cnc1_b#
-----------------------------------------

untuk pengecekan : pergunakan perintah ping,traceroute dan telnet

cnc1_a#pi
Protocol [ip]:
Target IP address: 10.14.200.2
Repeat count [5]: 100
Datagram size [100]:
Timeout in seconds [2]:
Extended commands [n]:
Sweep range of sizes [n]:
Type escape sequence to abort.
Sending 100, 100-byte ICMP Echos to 10.14.200.2, timeout is 2 seconds:
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Success rate is 100 percent (100/100), round-trip min/avg/max = 236/518/1796 ms
cnc1_a#

cnc1_a#traceroute 10.14.200.2

Type escape sequence to abort.
Tracing the route to 10.14.200.2

1 192.168.10.2 192 msec 884 msec 712 msec
2 192.168.10.10 [MPLS: Labels 16/19 Exp 0] 384 msec 500 msec 400 msec
3 192.168.10.17 [MPLS: Label 19 Exp 0] 336 msec 372 msec 288 msec
4 192.168.10.18 448 msec 1292 msec 592 msec
cnc1_a#

cnc1_a#telnet 10.14.200.2
Trying 10.14.200.2 ... Open

User Access Verification

Password:
cnc1_b>

cnc1_b#pi
Protocol [ip]:
Target IP address: 10.14.200.1
Repeat count [5]: 100
Datagram size [100]:
Timeout in seconds [2]:
Extended commands [n]:
Sweep range of sizes [n]:
Type escape sequence to abort.
Sending 100, 100-byte ICMP Echos to 10.14.200.1, timeout is 2 seconds:
!!!!.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
!!!!!!!!!!!!!!!!.!!!!!!!!!!!!!
Success rate is 98 percent (98/100), round-trip min/avg/max = 284/548/1412 ms
cnc1_b#tra
cnc1_b#traceroute 10.14.200.1

Type escape sequence to abort.
Tracing the route to 10.14.200.1

1 192.168.10.17 236 msec 252 msec 184 msec
2 192.168.10.13 [MPLS: Labels 17/19 Exp 0] 436 msec 1740 msec 608 msec
3 192.168.10.2 [MPLS: Label 19 Exp 0] 584 msec 1252 msec 424 msec
4 192.168.10.1 864 msec 292 msec *
cnc1_b#
cnc1_b#telnet 10.14.200.1
Trying 10.14.200.1 ... Open

User Access Verification

Password:
cnc1_a>

"------------Sekian dulu, semoga bermanfaat------------------"
ref: cisco

Kamis, 13 Februari 2014

BACKBONE NETWORK

Backbone network atau network backbone merupakan sebuah teknik atau infrastruktur dalam sebuah jaringan komputer yang dapat menghubungkan beberapa jaringan lokal dan bagian-bagian jaringan lainnya yang menyediakan path untuk dapat mengubah  paket informasi antara LAN dan subnetwork yang beda. Sederhananya, konsep ini dapat tergambar dari jaringan lokal yang biasa tersambung pada masing-masing lantai di bangunan bertingkat, yang menggunakan satu lajur kabel utama dan kabel khusus. Nah, backbone network inilah yang merupakan jalan,saluran,  jalur utama atau biasa disebut dengan jalan tol pada sebuah jaringan. Backbone network ini sendiri dirancang untuk dapat membedakan antara network pada lokasi sama, seperti area perkantoran.
Backbone network (Back_Net) ini merupakan bagian utama dari sebuah desain struktur jaringan pada komputer yang mampu  memberikan tingkat stabilitas yang cukup memadai pada jaringan-jaringan tersebut. Disini terlihat bahwa Back_Net dibuat dengan tujuan untuk menyuplai sarana atau lintasan dalam menghubungkan berbagai komponen di dalam jaringan ke sebuah unit yang lebih interaktif. Pendekatan yang digunakan  semacam ini memungkinkan Anda untuk dapat menghubungkan berbagai jaringan secara bersama dan bertujuan untuk manage task atau semua aktivitas seperti sharing tipe data tertentu, pada Back_Net yang berfungsi secara independen.


Konsep Back_Net seperti ini merupakan konsep yang sangat banyak digunakan, karena sangat ampuh untuk dapat mencegah bootleneck  yang menyerang server induk. Secara teknis, kabel yang digunakan merupakan jenis fiber optic dengan kabel RG-58/8. Konektor yang digunakan seperto ST untuk fibel optic, BNC pada kabel RG-58 dan AUI pada kabel RG-8. Secara umum, backbone network  yang sering digunakan adalah backbone yang menyediakan infrastruktur yang mendukung jaringan tunggal (individu) yang terdapat pada area pusat (misalnya kantor pusat ) dimana seluruh karyawan yang menyebar di seluruh dunia dapat sharing data dengan proses yang sangat mudah.  Pendekatan jaringan yang serupa juga sering diterapkan pada kampus-kampus, dengan cara membuat jaringan lokal yang dapat difungsikan pada setiap bangunan yang terhubung dengan sistem terpusat dan memungkinkan untuk berbagi data melalui interkoneksi jaringan, dimana semua jaringan berjalan secara independen namun masih dapat bertukar data dalam jaringan terhubung.
Konsep Back_Net seperti ini merupakan konsep yang sangat banyak digunakan, karena sangat ampuh untuk dapat mencegah bootleneck  yang menyerang server induk. Secara teknis, kabel yang digunakan merupakan jenis fiber optic dengan kabel RG-58/8. Konektor yang digunakan seperto ST untuk fibel optic, BNC pada kabel RG-58 dan AUI pada kabel RG-8. Secara umum, backbone network  yang sering digunakan adalah backbone yang menyediakan infrastruktur yang mendukung jaringan tunggal (individu) yang terdapat pada area pusat (misalnya kantor pusat ) dimana seluruh karyawan yang menyebar di seluruh dunia dapat sharing data dengan proses yang sangat mudah.  Pendekatan jaringan yang serupa juga sering diterapkan pada kampus-kampus, dengan cara membuat jaringan lokal yang dapat difungsikan pada setiap bangunan yang terhubung dengan sistem terpusat dan memungkinkan untuk berbagi data melalui interkoneksi jaringan, dimana semua jaringan berjalan secara independen namun masih dapat bertukar data dalam jaringan terhubung.
Komponen Penting Backbone Network

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat diperhatikan sebelum membangun Back_Net, antara lain :
1.Penyediaan seluruh kebutuhan yang diperlukan untuk membangun desain jaringan, seperti jenis data,      service, frame relay dan IP.
2.Perhatikan kapasitas yang diperlukan untuk membuat Back_Net. Hal ini sangat tergantung pada desain  output yang diinginkan.
3.Pertimbangan setiap desain topologi dan teknologi yang digunakan  untuk membangunnya.
4.Konsep atau rancangan topologi sangat berpengaruh pada letak node, jumlah, desain jalur/ sambungan dan  seluruh desain akses backbone.
5.Konsep penggabungan trafic pada path yang memiliki tipe yang berbeda
6.Platform yang digunakan sesuai dengan bandwidth yang dimiliki
7.Perangcangan Rerouting dan redudancy
8.Pemilihan teknologi bridge backbone ring dll

Alasan Penggunaan Backbone Network :

1.Kecenderungan peningkatan kebutuhan interkoneksi pada jaringan lokal
2.Adanya peningkatan kecepatan data transfer khususnya data dengan tipe multimedia seperi grafis, audio, video, yang kecepatan transfer FDD hingga 100Mbps
3.Diyakini bahwa proses instalasi dan pengaturan manajemen backbone network ini dianggap lebih sederhana, efektif dan efisien dengan jarak jangkauan yang sangat luas
4.Backbone network ini mampu menangani masalah transfer bottleneck
5.Memiliki sistem ketahanan kegagalan (fault tolerance) yang tinggi bila menggunakan sistem dual ring
Demikian sekelumit info mengenai Back_Net yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.



Kamis, 05 September 2013

SIMULASI TEST BERTEST PDH RAD OPTIMUX – 108

Proses pengetesan Channel 1 di PDH OP-108 dari Site A ke Site B, berikut langkah – langkah nya :
Kita Asumsikan Topologi jaringan yang akan kita uji seperti di bawah ini :
  1. Pastikan bahwa link Optik sudah cancel atau tidak ada masalah pada jalur optik.
    
    a). Link A optik normal

  1. Setelah dipastikan link optik tidak bermasalah selanjut nya, setting E1 di channel  1 dengan menggunakan kabel UTP ( Unleased Twisted Pair ) dan konektor RJ45, dengan urutan pin 1 2 4 5.
        
b)  Urutan kabel                                 c) Pemasangan konektor E1 di OP – 108
  pada konektor RJ45
  1. Setelah pemasangan pin, proses selanjut nya krone kabel E1 ke LSA di Channel 1 dan test Tx PDH di LSA dengan menggunakan led tester.
       
d) proses krone kabel E1                                 e) Test Tx arah PDH menggunakan Led Tester
  1. Selanjutnya proses krone Bertest di LSA Site A dan looping LSA channel 1 di Site B untuk memastikan kehandalan link di channel 1, ( untuk setting configurasi bertest ada di panduan sebelum nya )
                 
f) Krone LSA ke Bertest di Site A               g) krone Looping di Site B
Apabila Channel sudah lurus dari site A ke site B maka led tester akan menyala di kedua sisi Tx maupun Rx. Menunjukan bahwa signal Tx dan signal Rx dapat ter sinkronisasi.
  1. Dikarenakan link sudah ter sinktonisasi lurus di channel 1 maka led indikator di perangkat Site A maupun Site B akan menunjukan cancel / normal di channel 1, seperti contoh gambar simulasi di bawah ini.
h) Led Indikator Channel 1 di kedua sisi normal
  1. Jika sudah ter sinkronisasi maka led indikator di Bertest akan menyala dan proses Bertest bisa dilakukan.
i) bertest synchronous
Contoh Kasus bila terjadi  gangguan Alarm AIS pada Channel 2 di PDH OP – 108 berikut cara penanggulangan nya :
j) Alarm Indikator System
Bila terjadi indikator seperti gambar diatas, lakukan langkah – langkah berikut :
  1. Check pengkabelan E1 dari PDH, LSA sampai Perangkat converter
  2. Reset pada perangkat converter ( RICI-E1, FCD E-1LC atau RIC-E1)
  3. Bila alarm AIS masih muncul setelah di reset pada converter, ada baik nya reset PDH di kedua sisi namun hal ini harus dipastikan dahulu dengan pihak Network Monitoring System dikarenakan kemungkinan terganggu pelanggan lain yang menggunakan channel lain di PDH tersebut.
  4. Lakukan Test Bertest untuk kelurusan dan kehandalan jalur bisa disebabkan jalur Channel tidak sama dengan Perangkat di sisi lawan
  5. Manuver Channel bila memungkinkan ( dilakukan 2 sisi )
  6. Bila hal tersebut masih terjadi alarm AIS, Replace PDH OP-108.

TEKHNIK DAN CARA CROSS CONNECT

Tools yang dibutuhkan untuk cross-connect adalah puncher crown LSA K52 K57 LED (Light Emitting Diode) BER Test PC Laptop terdiri dari Sistem Operasi Windows 2000 atau yang lebih baru. Java Port COM, LAN card, USB to LAN OMS Saya membagi tekhnik cross-connect menjadi dua bagian, yaitu fisik dan software. Fisik Yang dimaksud dengan cross-connect fisik adalah aktifitas yang dilakukan untuk menghubungkan dua site secara fisik menggunakan puncher. Katakanlah misalnya yang dihubungkan adalah site A dan C, dan posisi kita ada di site B. Maka saat di site B, kita mencari DDF yang ke arah site A dan ke arah site B. Dengan menggunakan LED, cari yang mana TX dari 1 kabel E1 yang dari site A, dan cari juga yang mana TX dari site C. Setelah didapatkan TX dari masing2 E1, maka hubungkan dengan menggunakan puncher LSA atau K52 atau K57, TX dari site A menuju RX ke site B, dan sebaliknya, hubungkan TX dari site B menuju RX ke site A. Setelah selesai menghubungkan antar kabel TX dan RX, test kembali dengan menggunakan LED. Harus nya semua kabel E1 saat ini sudah memiliki frekuensi dan ditandai dengan lampu LED menyala. Jika masih ada kabel yang belum menyala, maka cross-connect connect yang dibuat masih belum bekerja dengan baik. Selain dengan menggunakan LED, kita juga dapat mengecek cross-connect dengan menggunakan Multi-Tester. Cara nya adalah dengan cara melihat apakah sudah ada frekuensi yang dilewatkan oleh kabel E1, dengan menggunakan fungsi “Hz” pada multi-tester. Sinyal yang baik adalah jika kabel tersebut mengeluarkan frekuensi sekitar 1.023Hz. Dalam beberapa kasus, ada juga kabel yang hanya mengeluarkan frekuensi sekitar 300an Hz. Frekuensi ini tetap bisa melewatkan transmisi. Software Berbeda dengan cross-connect fisik, cross-connect software adalah tekhnik menghubungkan 2 site dengan menggunakan software atau komputer. Disini hanya dijelaskan tekhnik cross-connect menggunakan produk Ericsson yaitu Minilink TN dan Marconi. Traffic Node Ada beberapa hal yang harus di pahami agar dapat mengerti tekhnik melakukan cross-connect menggunakan software. Seperti sudah dijelaskan dibagian awal, bahwa biasa nya TN yang banyak digunakan adalah 6P dan 20P. Bagaimana cara menghitung slot nya? Ini harus diperhatikan untuk instalasi, apalagi dalam cross-connect. PFU (Power Filter Unit) terdapat disisi paling kiri dan menempati slot 0. Slot 1 diisi oleh FAU (Fan Unit). Sedangkan slot 2 sampai dengan 6 dapat diisi LTU155e, LTU16x2 atau MMU2. Sedangkan slot 7 yang diatas diisi oleh NPU 8x2. Menghitung letak slot TN 20P sedikit lebih mudah dibandingkan dengan TN 6P. Sisi paling kiri atau slot 0 diisi oleh PFU. Di slot 10 diisi oleh NPU, sedangkan slot lainnya dapat diisi dengan MMU, SMU, LTU155e dan LTU16x2. Untuk keperluan cross-connect, yang diharus dipahami adalah peletakan slot LTU 16x2 dan LTU155e. Masuk ke TN Untuk dapat masuk ke TN, yang harus diperlukan adalah alamat IP. Jika TN tersebut belum pernah di commissioning, maka IP default nya adalah 10.0.0.1 dengan subnet mask adalah 255.255.255.0. Sedangkan jika TN tersebut sudah di commissioning, maka IP nya dapat dilihat disisi kiri TN terdapat sebuah lempengan. Dan jika lempengan tersebut belum di berikan alamat IP, atau IP yang dilempengan tersebut salah, maka kita dapat mengetahui IP dari TN tersebut dengan menggunakan kabel DB9 male to female ( Semua E1 / port yang terdapat disisi DDF, baik LSA, K52 atau K57 didalam software dikenal 1A sampai dengan 4D. dibawah ini dijelaskan table konversi dari port fisik ke angka disoftware. Fisik Software E1 1 1A E1 2 1B E1 3 1C E1 4 1D E1 5 2A E1 6 2B E1 7 2C E1 8 2D E1 9 3A E1 10 3B E1 11 3C E1 12 3D E1 13 4A E1 14 4B E1 15 4C E1 16 4D Tabel konversi fisik ke software. Ke 16 E1 ini biasa nya terdapat dalam satu slot LTU 16x2. Dengan demikian, berapapun jumlah LTU 16x2 yang terdapat dalam sebuah TN, maka total nya adalah dikali 16 E1. Setelah memahami slot E1 fisik, selanjutnya adalah memahami apa yang disebut dengan Air Interface (Um). E1 Air Interface 1 1.1.1 2 1.1.2 3 1.1.3 4 1.2.1 5 1.2.2 21 1.7.3 34 2.5.1 s/d s/d 63 3.7.3 Tabel konversi E1 ke Air Interface Jenis Slot / LTU Keterangan 16x2 Adalah E1 yang jatuh langsung ke DDF. Jika dilihat disoftware maka cirinya adalah 1A, 1B, 1C, 1D, 2A s/d 4D 155e Adalah E1 yang tidak kelihatan. E1 ini digunakan untuk menghubungkan antara 1 site dengan site yang lain atau lebih. Jika dilihat di software maka cirinya adalah 1.1.1, 1.1.2, 1.4.3, 1.6.2, 1.7.2, s/d 1.7.3 Untuk dapat melakukan cross-connect menggunakan software, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu : Pastikan secara fisik di near end dan far end terdapat E1 (biasanya lebih disebut dengan port) yang kosong (tidak terdapat loop, atau lampu di RX mati). Dan cek juga disoftware apa sudah ada cross-connect yang digunakan. Pastikan juga air interface near end dengan air interface far end ada yang sejenis. Misalnya kita melihat bahwa air interface 1.7.2 di near end tidak digunakan, maka lihat juga di far end, dan pastikan kalau air interface 1.7.2 juga tidak digunakan. Katakan lah, E1 di DDF K52 yg kosong disite "A" adalah E1 15, ini berarti dalam software TN, E1 ini dikenal dengan port 4C. Dan kita cari juga air interface yang kosong di LTU155e pada TN yg sama, katakan juga kita mendapati terdapat air interface 1.7.2 yang kosong. INGAT, jika kita ingin menggunakan air interface 1.7.2 di site A, MAKA PASTIKAN JUGA disite B (Far end) air interface 1.7.2 juga masih kosong. Dengan meng-klik Configuration -> Traffic Routing, buatlah crossconnect di TN site A. Setelah selesai, lanjutkan pindah ke site B. Cari port E1 yang masih kosong, buka TN nya, dan buat crossconnect dengan menghubungkan air interface 1.7.2 dengan port E1 disite B yang masih kosong tadi. Lanjutkan dengan mengetest kelurusan.